Press "Enter" to skip to content

Assassin’s Creed, Cerita Absurd Yang Berkembang Lambat

 

Salah satu frenchise game paling terkenal produksi Ubisoft akhirnya diangkat kedalam bentuk layar lebar. Ialah Assassin’s Creed yang dalam filmnya ini dimainkan oleh para Hollywood’s A-List.

Bagi yang familiar dengan game Assassin’s Creed, frenchise ini sebetulnya punya banyak keunggulan. Mulai dari latar sejarah klasik yang diberikan bumbu fantasi untuk bisa mengeksplorasi kreatifitas, lalu kostum klasik ala abad pertengahan, ditambah aksi koreografi menawan yang dipengaruhi oleh gerakan bela diri khas Asia.

Hal-hal tersebut adalah detail yang sangat membantu untuk membuat sebuah film adaptasi game yang menarik, sebetulnya… Namun sayang, film Assassin’s Creed tampil jauh berbeda dari yang diharapkan. Film ini tampak kesulitan dan kewalahan dalam bercerita baik dari alur, dialog, maupun aksi.

Pada sekitar abad 15 di Spanyol terdapat sebuah kelompok rahasia dimana para assassin berkumpul. Kelompok ini dipimpin oleh Aguilar de Nerha (Michael Fassbender). Kelompok assassin ini bertugas untuk melindungi keberadaan Apple of Eden dari tangan kelompok Knight Templar. Apple of Eden dipercaya sebagai sebuah buah yang mengandung penyebab kebebalan pertama yang pernah dilakukan manusia, dan pemilik Apple of Eden diceritakan dapat mengatur free will yang dimiliki oleh manusia.

Sekitar 500 tahun kemudian, dijaman kini, para penerus kelompok Knight Templar masih mencari keberadaan Apple of Eden. Mereka kemudian berhasil menemukan seorang criminal bernama Cal Lynch (juga diperankan oleh Michael Fassbender) yang ternyata adalah keturunan dari Aguilar de Nerha.

Dibawah pimpinan seorang petinggi Knight Templar bernama Rikkin (Jeremy Irons) dan juga seorang peneliti perempuan bernama Sofia (Marion Cotillard), Cal menggunakan sebuah alat bernama Animus untuk menjelajahi ingatan leluhurnya. Melalui ingatan leluhurnya, Cal diminta untuk mencari tahu keberadaan Apple of Eden bagi kelompok Knight Templar.

assassin's creed
adegan film AC the movie. foto : ubisoft.

Salah satu hal yang buruk dari film ini adalah bagaimana aneh dan tidak masuk akalnya setiap variabel masalah beserta hubungannya. Seperti penggunaan Apple of Eden yang berguna untuk mengontrol free will manusia sebagai salah satu variabel penting dalam membentuk plot cerita. Juga tidak ada penjelasan lebih dalam kenapa kelompok Assassin yang menjaga dan kelompok Templar yang ingin merebut. Dan lebih dasar lagi, kenapa harus ada Apple of Eden? Kenapa harus human free will? No explanation.

Di masa sekarang sempat dijelaskan bahwa Knight Templar ingin menghapus kekerasan dengan menggunakan Apple of Eden. Tapi yang di masa lalu? Tidak ada penjelasan.

Penggunaan ruang kreatif yang disediakan oleh genre fantasy pun tidak mampu membuat cerita ini tambah menarik. Dialog dalam film tidak ada yang terasa menegangkan, menyenangkan, ataupun menjelaskan. Semuanya terasa lambat, membosankan, dan tampak tidak berarti.

Bagian paling menarik dari film ini adalah saat memperlihatkan waktu masa lalu, namun sayangnya sebagian besar film ini lebih menghabiskan waktu dimasa sekarang dimana Sofia sibuk melihat Cal terikat dalam mesin Animus. Padahal dalam semua game Assassin’s Creed, persentasi diperlihatkannya masa sekarang tidak lebih dari 10%.

assassin's creed
adegan film. foto : 20th Century Fox.

Film ini kurang lebih memiliki porsi sekitar 70% dalam menceritakan yang terjadi di masa sekarang. Hanya dengan porsi yang sedikit pula, bagian masa lalu yang diperlihatkan banyak terdapat hal yang sebetulnya tidak penting, seperti menemukan Pangeran Granada yang tersembunyi. Kemudian film ini juga memperlihatkan perpindahan latar waktu dengan cukup sering dan juga cepat dalam bercerita mengenai keadaan masa lalu.

Tak hanya itu saja, film ini juga banyak berisi cerita-cerita sub-plot yang sebenarnya tidak penting. Hal ini kemudian menambahkan kemunculan cukup banyak tokoh yang tidak diperkenalkan dengan baik.

Seperti misalnya adegan masa kecil Cal, penangkapan Pangeran Granada, dan sebagian besar adegan di masa sekarang yang kebanyakan sangat membosankan. Lalu beberapa tokoh lain juga diperlihatkan tapi tidak diperkenalkan dengan baik, seperti orang lain yang juga menjadi objek penelitian bagi kelompok Knight Templar di masa kini yang ternyata adalah para assassin juga.

Kemudian ternyata ada ayah dari Cal yang masih hidup dan mendekam dalam ruang penelitian. Kalau yang dicari memang hanya sebatas memori kenapa harus nyari Cal, kan masih ada bapaknya. Lalu perbedaan pandangan antara Rikkin dan Sofia yang ternyata tidak mampu merubah alur dan menghasilkan apa-apa dalam cerita.

Disisi lain, film ini mempertunjukan adegan aksi yang menarik. Para assassin memberikan suguhan aksi bertempur yang dipengaruhi gerakan-gerakan cantik khas bela diri Asia, mulai dari adu fisik, hingga teknik memanah. Namun sayang, adegan aksinya juga masih terlalu sedikit jika dibanding dialog membosankan yang diberikan film ini.

Selain itu proses penguasaan bela diri dalam film ini juga terlihat dipaksakan. Cal Lynch yang tadinya hanya bisa berantem biasa seperti layaknya criminal level medioker, tiba-tiba menguasai teknik bela diri setelah menggunakan Animus beberapa kali. What?

Hal-hal tidak masuk akal nan absurd mungkin bukanlah masalah utama dalam film ini. Tapi kesalahan film ini adalah berusaha terlalu keras untuk menyambung-nyambung berbagai hal yang tidak masuk akal dan juga terlalu memaksakan untuk menjelaskan hal-hal tidak masuk akal tersebut. Sehingga cerita film ini terasa lambat, dan membosankan.

Our Score (5,5/10)

 

Judul                     : Assassin’s Creed
Produksi              : Regency Enterprises, Ubisoft Entertainment
Produser             : Jean-Julian Baronnet, Geraard Guillemot, Frank Marshall, Patrick Crowley, Michael Fassbender, Conor McCaughan, Arnon Milchan
Sutradara            : Justin Kurzel
Pemain                 : Michael Fassbender, Marion Cotillard, Jeremy Irons, Brendan Gleeson, Charlotte Rampling, Michael K. Williams

 

 


Oleh : Putu Radar Bahurekso
t : @puturadar | ig : putu.radar


 

Facebook Comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mission News Theme by Compete Themes.