Press "Enter" to skip to content

Beauty and The Beast, Terdegradasi Namun Tetap Mempesona dan Memikat

Beauty and The Beast adalah sebuah kisah klasik asal Perancis berumur ratusan tahun yang bercerita tentang cinta. Bagaimana seseorang seharusnya bisa melihat kecantikan orang bukan dari tampang ataupun penampilan saja melainkan juga dari dalam.

Sayangnya, Beauty and The Beast tampil tidak sebaik yang diharapkan dari begitu banyaknya promosi yang sudah dilakukan Disney. Film ini tampil tidak sebaik versi animasinya, namun tetap ada beberapa hal yang tidak berubah ketika kita menyaksikan film ini… yes, the magic never fades.

Disutradarai oleh Bill Condon (Twilight : Breaking Dawn Part 1 dan 2, Gods and Monsters, Dreamgirls), Beauty and The Beast masih cukup setia untuk mengikuti cerita versi animasinya. Namun Condon berusaha untuk menambahkan beberapa sub-plot dan juga identitas modern kedalam filmnya.

Sayangnya cerita tambahan yang dimunculkan dan juga dialektika tentang isu-isu terkini yang ingin dihadirkan justru malah membuat film ini tampak kebingungan antara ‘setia dengan yang asli’ atau ‘dikembangkan disesuaikan dengan keadaan kini’.

Belle adalah sosok perempuan yang menjadi heroine dalam memperlihatkan girl power di awal 90an. Tentu isu yang berkembang di masyarakat pada tahun 90an dan sekarang berbeda. Hasil dari upaya penggabungan kedua hal tersebut justru membuat cerita film ini terlihat sedikit berantakan dan dipaksakan. Identitas sinematik dan juga realitas internal yang dihadirkan juga jadi terasa kurang.

Belle dan Maurice. foto : Walt Disney Pictures

Diceritakan bahwa Belle (Emma Watson) adalah seorang perempuan yang tinggal di sebuah desa kecil di Perancis yang bernama Desa Villeneuve (FYI, desa ini dinamakan sesuai dengan pengarang asli cerita Beauty and The Beast yakni Gabrielle-Suzanne Barbot de Villeneuve dan cerita ini diterbitkan pada tahun 1740).

Belle tidak suka dengan kehidupan desa, dimana ia dianggap aneh karena Belle hobi membaca dan juga cerdas. Belle memiliki keinginan untuk hidup di tempat yan lebih luas dan bisa pergi bertualang ke berbagai tempat.

Suatu hari ketika ayah Belle, Maurice (Kevin Kline), pulang dari pasar ia tersasar ke sebuah istana di dalam hutan yang dimiliki oleh Beast (Dan Stevens). Karena mencuri bunga mawar di taman istana, Maurice kemudian ditahan oleh Beast (Dan Stevens).

The Enchanted Objects. foto : Walt Disney

Belle kemudian merelakan diri untuk menggantikan ayahnya menjadi tahanan Beast. Lumiere (Ewan McGragor) dan juga Cogsworth (Ian McKellen) menemukan harapan dari sosok Belle untuk membuat Beast bisa mengerti tentang cinta. Beast untuk bisa kembali kepada sosok aslinya sebagai the prince charming, ia harus mencintai seorang wanita dan juga dicintai kembali.

Selain Lumiere dan Cogsworth, Belle juga berinteraksi dengan beberapa objek hidup lainnya seperti Mrs. Potts (Emma Thompson) dan anaknya, Chips (Nathan Mack). Sayangnya objek-objek hidup tersebut sering kali lebih mampu mencuri perhatian ketimbang Beast bentukan CGI yang beberapa kali terlihat kaku.

Beberapa cerita tambahan dimunculkan dalam film ini seperti menceritakan tentang kematian ibu dari Beast, dan juga perjalanan Belle ke Paris dan mengetahui bahwa ibunya meninggal karena wabah penyakit. Sayangnya cerita tambahan ini dikemas dengan kurang baik sehingga justru terasa tidak terlalu relevan dengan jalan cerita utama dan tampak tidak perlu dimunculkan.

Perbedaan kecil dengan eksekusi yang kurang baik ini justru membuat kesan familiar yang ada malah menjadi terasa aneh. Seolah cerita ini dimunculkan hanya untuk memenuhi keinginan Disney yang terbiasa membuat latar cerita kematian ibu kepada para princess-nya.

Dalam cerita ini ada sosok lain yang memiliki peran penting yakni Gaston (Luke Evans), seorang pemuda tangguh dan narsis di desa Villeneuve yang tertarik terhadap Belle. Gaston yang narsis kemudian berusaha untuk menyerang Beast dan merebut Belle. Penampilan Gaston dalam film ini justru terlihat berlebihan. Secara singkat, Gaston dalam live action justru terlihat lebih kartun dari pada yang ada dalam kartun.

Meskipun demikian, Beauty and The Beast tetaplah sebuah kisah klasik yang mempesona. Film ini tetap menghadirkan keindahan visual melalui kostum, desain CGI, juga latar tempat.

Pemilihan Emma Watson sebagai salah satu Disney’s princess juga adalah sebuah keputusan yang tepat, karena ia mampu memperlihatkan pesonanya sebagai Belle yang cerdas, polos, dan memikat.

Beauty and The Beast. foto : Walt Disney Pictures

And for this tale as old as time, the magic does not fade and still enchanting… Siap-siap untuk bernostalgia dan terpikat dengan nyanyian-nyanyian musikal yang juga muncul dalam film animasinya seperti ‘Be Our Guest’, ‘Tale As Old As Time’, dan ‘Beauty and The Beast’. Apalagi ditambah dengan koreografi dari para objek benda hidup yang masih indah dan mempesona seperti dalam lagu ‘Be Our Guest’ saat Belle disajikan makan malam.

Meskipun cerita film tampil dengan hasil yang kurang maksimal, namun berbagai unsur magis dan daya tarik tetap membuat film ini mempesona dan memikat.

Disney tampaknya sedang membangun proyek film-film live action dari cerita animasi yang mereka miliki, seperti sebelumnya sudah ada Cinderella (2015) dan juga The Junggle Book (2016). Banyak yang beranggapan bahwa Disney sudah kehabisan ide. Namun jika hasilnya masih sebaik ini atau bahkan bisa seperti The Jungle Book, masih pantas rasanya untuk kita kembali menikmatinya dalam bentuk layar lebar.

Our Score (7/10)

 

 

Judul                     : Beauty and The Beast
Produksi              : Walt Disney Pictures, dan Mandeville Films
Sutradara            : Bill Condon
Penulis Cerita   : Stephen Chbosky, dan Evan Spiliotopoulos
Pemain                 : Emma Watson, Luke Evans, Kevin Kline, Dan Stevens

 

 


Oleh : Putu Radar Bahurekso
t : @puturadar | ig : putu.radar


 

Facebook Comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mission News Theme by Compete Themes.