Press "Enter" to skip to content

Inferno, Film Thriller Rasa Promosi Wisata Museum

 

Cerita-cerita misteri thriller milik Dan Brown memiliki potensi cerita yang luar biasa menarik dengan segala intriknya, tone nya yang gelap, kedalaman sejarah, serta perbedaan sudut pandang dari para tokohnya yang bisa diperdebatkan, dan itu semua terjadi tanpa perlu ada ledakan-ledakan dahsyat.

Namun sayang tampaknya sutradara Ron Howard masih saja mengemas cerita Inferno kali ini dengan sangat mirip seperti dua film sebelumnya yakni The Da Vinci Code dan Angels & Demons. Gaya analisis Robert Langdon (Tom Hanks) pun masih lebih banyak di dominasi oleh penglihatan-penglihatan imajiner otaknya ketimbang kemampuan analisisnya sebagai ahli simbol, sejarahwan, atau apapun itu.

Film Inferno ini dimulai dengan cukup menarik, melalui sebuah pidato dari seorang milyader Amerika Serikat bernama Bertrand Zobrist (Ben Foster) dimana ia berpendapat bahwa kemanusiaan adalah hal yang sebenarnya tidak berprikemanusiaan, seiring bertambahnya jumlah manusia semakin tidak peduli manusia dengan alam. Manusia adalah penyakit bagi kemanusiaan juga manusia itu sendiri.

Ini adalah sebuah scene awal dimana diajak untuk langsung memperhatikan dan berpikir. Namun sayangnya adalah adegan pembuka ini dikemas dengan memperlihatkan wajah Zobrist yang sedang berbicara dengan gambar visual hasil CG tidak rapih yang memperlihatkan padatnya jumlah manusia dimuka bumi. Hal ini justru membuat scene tersebut terlihat berantakan, ramai, dan penuh.

Tiba-tiba saja kita melihat bahwa Zobrist kemudian dikejar oleh sekelompok orang sebelum akhirnya ia meninggal karena terjun dari atas menara.

adegan film inferno. gambar : Columbia Pictures
adegan film inferno. gambar : Columbia Pictures

Film ini kemudian masuk kedalam sebuah adegan di rumah sakit dimana kita melihat tokoh utama yakni Robert Langdon sedang dirawat karena terluka dan menderita amnesia ringan yang mengakibatkan ingatannya selama beberapa hari kebelakang hilang. Robert Langdon tidak tau mengapa dirinya dirawat dan ia juga kebingungan mendapati dirinya berada di Florence, Italia. Saat sedang kebingungan tiba-tiba seorang wanita datang dan berusaha untuk membunuh Robert Langdon. Namun bersama dokter Sienna Brooks (Felicity Jones) yang juga menggemari teka-teki dan puzzle, mereka kabur lalu berusaha untuk memecahakan sebuah kode rahasia milik Zobrist untuk melacak keberadaan virus yang dapat membunuh banyak umat manusia di bumi.

Seorang profesor ahli sejarah yang mengalami amnesia ringan ini berusaha untuk memecahkan sebuah misteri besar yang mengikuti petunjuk kisah hidup Dante, seorang penulis romantis asal Italia. Tapi hampir semua petunjuk tentang kodenya ia dapatkan dari penglihatan imajiner absurd dengan tone gelap yang dibuat oleh otaknya sendiri.

Dalam memecahkan misteri ini, Robert Langdon dan Sienna Brooks berkeliling kedalam setiap museum. Disinilah yang membuat film ini lebih tampak seperti film promosi wisata museum ketimbang sebuah film misteri-thriller. Hampir tidak ada adegan pemecahan misteri yang dipecahkan menggunakan kemampuan analisis juga tidak ada adegan maupun suasana menegangkan dalam pemecahan masalah atau dalam aksi kejar-kejaran.

Dalam beberapa adegan film ini juga memperlihatkan sisa waktu sebelum akhirnya virus tersebut menyebar. Namun tidak ada sebuah aksi mengejar waktu epik yang diperlihatkan. Semuanya terasa tenang-tenang saja, dan terlihat semuanya pasti beres dan yang baik akan berhasil pada akhirnya.

Saat Robert Langdon dan Sienna Brooks memecahkan teka-teki Dante, ada beberapa kelompok orang yang berusaha untuk mengejar mereka yang ditujukan untuk membuat penonton berpikir bahwa ada tokoh antagonis lainnya. Ada sih tapi bagian revalation-nya tidak mencengangkan. Mereka adalah dari kelompok agen rahasia Prancis dibawah pimpinan Christoph Bruder (Omar Sy), kemudian ada dari WHO dibawah pimpinan Dr. Elizabeth Sinskey (Sidse Babett Knudsen), dan juga kelompok rahasia dibawah pimpinan Harry Sims (Irffan Khan).

inferno
ilustrasi inferno milik Dante. gambar : goodreads

Salah satu yang janggal juga adalah dalam mengejar Robert Langdon dan Sienna Brooks, WHO mengerahkan banyak pasukan bersenjata dan alat pengintai seperti drone, juga alat penghilang sinyal. Eh tunggu, iya sama saya juga bingung, sejak kapan WHO mengerahkan pasukan dan melakukan pengejaran terhadap orang lain?

Harry Sims juga ikut mengejar Robert Langdon setelah melihat video yang ditinggalkan oleh Zobrist. Organisasi rahasia milik Harry Sims ini memiliki aturan tidak boleh melihat barang titipan klien, tapi entah kenapa, tanpa alasan yang kuat, Harry Sims tiba-tiba ingin melihat video milik Zobrist yang kemudian membuat mereka sadar akan virus tersebut.

Adegan terakhir film ini juga bersetting disebuah tempat bersejarah di Istanbul, Turki. Dimana virus milik Zobrist tersimpan dan akan tersebar. Untuk mencegah penyebaran banyak yang dipersiapkan oleh para tim pengejar tapi semuanya hanya diberitahu melalui dialog tanpa memperlihatkan aksi-aksi menegangkan. It doesn’t thrill.

Film misteri thriller dengan segala kerumitan teori serta kedalaman sejarahnya ini justru terasa seperti sebuah iklan teka-teki untuk promosi museum-museum abad pertengahan di Italia. Padahal cukup banyak percakapan menarik serta kedalaman sejarah menarik yang dihadirkan dalam cerita film ini. Visualisasi imajiner absurd dengan tone gelap tentang penggambaran neraka bukannya meningkatkan misteri justru malah semakin memperburuk cerita film ini.

 

Our Score (5,5/10)

 

Judul                     : Inferno
Produksi              : Imagine Entertainments, Columbia Pictures
Produser              : Brian Grazer, Ron Howard
Sutradara            : Ron Howard
Pemain                 : Tom Hanks, Felicity Jones, Omar Sy, Ben Foster, Sidse Babett Knudsen, Irfan Khan

 

 


Oleh : Putu Radar Bahurekso
t : @puturadar | ig : putu.radar


 


Facebook Comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mission News Theme by Compete Themes.