Press "Enter" to skip to content

Justice League, Toning Formula Baru DC

Setelah berspekulasi dengan Batman v Superman dan Suicide Squad, DC Universe menemukan ramuan tone yang tepat untuk diadaptasi kedalam film-filmnya melalui film Wonder Woman. Hal tersebut kini kembali diadaptasi melalui Justice League walaupun hasilnya tak sebaik Wonder Woman.

Secara sederhana Justice League bercerita tentang Batman (Ben Affleck) dan Wonder Woman (Gal Gadot) yang berusaha untuk mengumpulkan sebuah tim dari para metahumans yang memiliki kekuatan super untuk mengalahkan Steppenwolf (Ciaran Hinds) yang berambisi menguasai bumi.

Justice League tampil menghibur lebih baik dari pada Batman v Superman dan juga Suicide Squad, namun Justice League masih belum mampu tampil sebaik Wonder Woman. Mungkin bisa dikatakan bahwa ini adalah faktor dari belum adanya pengenalan karakter yang kuat dari para anggota Justice League melalui film masing-masing.

Film ini menghadapi suatu masalah yang mirip dengan Suicide Squad yakni tampak kebingungan dan memaksakan dalam membuat sub-plot cerita saat pengumpulan anggota. Memperlihatkan Diana Prince a.k.a Wonder Woman yang masih aktif dalam melawan kejahatan melalui adegan terorisme di bank terlihat sangat payah dan tidak jelas. Kemudian juga saat memperkenalkan Cyborg atau Victor Stone (Ray Fisher) yang terlalu berlarut.

Justice League. Gambar : Warner Bros

Kemudian yang juga terlihat sangat dipaksakan adalah mengenai kebangkitan Superman (Henry Cavill). Batman tiba-tiba menyimpulkan bahwa The Mother Boxes bisa membangkitkan Superman dengan suatu cara tertentu. Padahal Batman tidak memiliki pengetahuan apa-apa tentang teknologi yang berasal dari planet atau dunia lain.

Lalu juga satu hal yang masih perlu diperbaiki DCEU (DC Extended Universe) adalah membuat narasi yang kohesif dari sosok tokoh antagonis. Sejak Zod dalam Man of Steel, Doomsday dalam BvS, kemudian Enchantress dan kakaknya dalam Suicide Squad, dan Ares dalam Wonder Woman, mereka semua kekurangan narasi yang dalam untuk mengukuhkan dan memperjelas kehadirannya dalam sebuah cerita.

Selain CG dan rupanya yang kurang keren sehingga membuatnya lebih tampak sebagai mini boss ketimbang ultra-villain, tak banyak yang bisa dijelaskan dari sosok Steppenwolf. Ia hanyalah sesosok jahat yang berambisi menguasai dunia. Karena ada sosok jahat yang katanya kuat dan ingin menaklukan bumi maka dibentuklah Justice League.

Disinilah pentingnya keberadaan narasi yang padu antara si pembela kebenaran dan si jahat, perlunya alasan yang kuat bagi sebuah tim pembela kebenaran untuk hadir dan bagi seseorang atau suatu makhluk untuk jahat dan ingin menguasai dunia. Ketika sosok antagonis hanya dijadikan sebuah alat untuk memunculkan tokoh protagonis, maka esensi pertempuran kedua pihak ini tidak akan bisa terasa maksimal.

Adegan Justice League. Gambar : Warner Bros

Selain sosok ultra-villain beserta narasinya dan plot pengumpulan para superhero, sisanya Justice League tampil baik dan menghibur. Batman, Superman, dan Wonder Woman tetap menjadi sosok utama dalam film ini. Namun diluar itu Flash (Ezra Miller), Aquaman (Jason Mamoa), dan juga Cyborg tetap bisa membaur dengan baik kedalam narasi cerita utama.

Flash si penggemar K-Pop menjadi sosok yang mampu mengundang tawa melalui sifatnya, ia dan Wonder Woman yang juga sering mencairkan suasana melalui tali laso-nya berpadu dengan baik dalam meringankan tone DC yang memang dominan gelap. Kemudian Aquaman yang tampil nyentrik namun keren dan maskulin bak rockstar 70an yang menjadi idola para remaja. Lalu Cyborg yang tampil serius dengan segala kontemplasi dirinya akan nasib yang ia alami. Tidak ada image overlapping.

Zack Snyder (300, Batman v Superman) yang harus berhenti mengurus Justice League ketika tahap pasca produksi, dibantu oleh Joss Whedon (Serenity, The Avengers) sebagai sutradara pasca produksi dapat memberikan sebuah formula yang tepat untuk menjadi atmosfir suasana film-film DC. Visual sinematografi yang tampak riang milik Whedon mampun membaur dengan baik terhadap dominasi visual milik Snyder yang terlihat suram dan gelap.

Melalui Justice League, DCEU sudah mulai menunjukan taji dan optimisme untuk bisa mampu tampil baik kedepannya. Film ini memang masih memiliki kelemahan narasi seperti juga yang terdapat dalam film-film DC sebelumnya. Namun dalam menjalankan perannya sebagai produk hiburan, Justice League tampil menghibur, memuaskan, dan juga tetap mampu menarik perhatian penonton dari awal hingga akhir.

 

Our Score (7,5/10)

 

 

Judul                     : Justice League
Sutradara            : Zack Snyder
Cerita                    : Zack Snyder, Chriss Terrio, Joss Whedon
Produksi              : DC Films, RatPac Entertainment, Atlas Entertainment, Cruel and Unusual Film
Pemain                : Ben Affleck, Gal Gadon, Henry Cavill, Jason Mamoa, Ezra Miller, Ray Fisher, Ciaran Hinds, Jeremy Irons, dan Amy Adams

 

 

 

 


Oleh : Putu Radar Bahurekso
t : @puturadar | ig : putu.radar


 

Facebook Comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mission News Theme by Compete Themes.