Press "Enter" to skip to content

Karya Anak Bangsa dan Nasionalisme Semu

 

Jargon ‘Karya Anak Bangsa’ sepertinya sudah tidak asing lagi untuk kita dengar maupun kita lihat di berbagai tempat. Banyak banget di NKRI ini iklan produk yang menggunakan jargon ‘Karya Anak Bangsa’  atau semacamnya untuk promosi produk mereka dan juga mendapatkan pasar.

Entah kenapa jargon yang satu ini seolah menjadi jargon yang semakin populer untuk promosi. Bahkan para netizen dan juga buzzer juga ikut-ikutan membela produk-produk yang menggunakan jargon tersebut tanpa alasan yang jelas selain itu produk buatan anak bangsa. Atau mungkin karena mereka buzzer bayaran makannya ngebela.

Pembelaannya seolah kalau kalian orang Indonesia dan punya rasa nasionalisme maka kalian harus membeli barang produk buatan bangsa sendiri. Kalau tidak menggunakan produk karya anak bangsa tandanya kalian tidak nasionalis.

Pembelaan inilah yang mau dibahas disini. Apa iya nasionalisme itu tolak ukurnya adalah perkara brand dan produk buatan mana?

Sedikit bercerita, saya pernah menggunakan sebuah applikasi smartphone penyedia layanan jasa ojek yang merupakan produk karya anak bangsa. Saya mulai menggunakan aplikasi ini sekitar satu setengah tahun yang lalu. Waktu itu applikasi ini lagi ngetrend banget karena bikin hidup di Jakarta jadi lebih gampang.

Iyalah, mau kemana aja tinggal mesen dari kamar terus tungguin abang ojek dateng ngejemput, belum lagi harganya yang murah. Malah sempet kemana saja cuman Rp 15.000.

Tapi seiring bertambahnya layanan yang disediakan aplikasi ini, semakin betambah juga masalah yang dimiliki oleh aplikasi anak bangsa ini. Aplikasinya sering erorlah saat baca posisi GPS kita, atau ga dapet driver lah padahal di petanya keliahatan ada banyak banget driver disekitar situ, belum lagi yang paling malesin kalau ada driver yang ngambil order terus ga jemput-jemput kalau ga kita tanyain dimana, dan terus kalau posisi kita ternyata kejauhan drivernya nelpon minta kita batalin order. Lah? What the hell are you doing? Kenapa ga biarin driver lain aja yang ambil order kalau ternyata kejauhan. Alasannya sih karena persaingan jadi dulu-duluan mencet, tapi malah nyusahin konsumen.

Sering banget saya protes tentang aplikasi ini ke akun twitter resminya. Suatu kali seorang teman menyarankan untuk menggunakan aplikasi serupa tapi yang bukan buatan anak bangsa. Dan memang beda banget. Aplikasinya jarang eror, pelayanan drivernya juga jauh lebih baik. Dari situ saya lebih sering make aplikasi buatan karya anak bangsa lain hingga sekarang.

Karena pekerjaan, saya menggunakan layanan aplikasi ojek online hampir setiap hari. Dan dalam hampir setahun lebih terakhirga sampai 10 kali saya menggunakan aplikasi anak bangsa, itu juga karena terpaksa situasi. There is a better application, why should i stuck with the worse one? I’m not dumb and i don’t want to waste my money on bad product.

Contoh cerita saya tadi adalah sebuah logika berbisnis. Biar gimana saya adalah konsumen, persaingan untuk mencari konsumen pasti dirasakan oleh penyedia produk atau jasa yang sejenis. Pada akhirnya konsumen akan memilih mana yang lebih baik, mana yang lebih memuaskan, mana yang lebih ekonomis, mana yang lebih sesuai ekspektasi. Ga peduli karya anak bangsa atau bukan.

Sekarang anggaplah saya setia menggunakan karya anak negara lain, lalu apa saya ga nasionalis? Buat saya lebih tidak nasionalis mereka yang berbisnis tapi menjual kualitas payah kepada orang-orang sebangsanya dan menjual belikan kata nasionalisme itu sendiri.

‘Karya Anak Bangsa’ tidaklah lebih dari sebatas jargon yang membuat nilai dan paham nasionalisme menjadi semakin semu. Kalian ga pernah dengar kan Apple bikin jargon ‘Made By American’ atau Sony bikin jargon ‘Made by Japanese’.

Sudah cukup kalian dibodohi dengan jargon yang mengawang macam ‘Karya Anak Bangsa’ (yes, you not me, because i’m smart enough to know about this poor trick). Dari pada fokus mikirin jargon, anak bangsa NKRI yang memang ingin berkarya lebih baik fokus terhadap kualitas produk atau jasa yang ingin dijual.

Apalagi kita sudah memasuki era MEA. Luar biasa bukan? MEA lho, sesuatu hal yang penting bagi perkembangan ekonomi negara-negara Asia Tenggara… yeah, but nothing really matter happenned. Padahal MEA ini sempet jadi isu yang ramai banget dikalangan para pemerhati dan penstudi sospol dan ekonomi, tapi… sudahlah.

Jadi singkatnya, di AFTA yang dimana persaingan semakin luas dan semakin kuat karena adanya perdagangan bebas ini kalau produk karya anak bangsa tidak mulai fokus terhadap kualitas ya jangan harap mampu bersaing.

Dengan maraknya jagon cetek seperti ini, nasionalisme seolah jadi memiliki ukuran yakni produk. Namun perlu disadari bahwa nasionalisme bukanlah sebuah jargon, juga bukan produk, yang terpenting juga nasionalisme tidak memiliki tolak ukur.

 

 


Oleh : Putu Radar Bahurekso
t : @puturadar | ig : putu.radar


 

Facebook Comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mission News Theme by Compete Themes.