Press "Enter" to skip to content

Ketika Kebijakan Liberal memiliki Dimensi Sosial

 

Kebijakan liberal sering kali dipandang sebagai insentif yang memperkaya si “kaya” dan memiskinkan “si miskin”. Orang kaya diuntungkan dari sistem pasar bebas yang memberikan ruang kompetisi yang tidak adil dimana orang miskin tidak akan mampu bisa bersaing dengan kapital yang terbatas.

Bahkan penghapusan subsidi negara yang disuarakan oleh kaum liberal dianggap hanya menyengsarakan orang miskin yang tidak dapat menikmati dana bantuan sosial atau harga bensin yang murah.

Kritik demi kritik yang dilontarkan terhadap nilai-nilai liberal menciptakan suatu gambaran dan asumsi bahwa menjadi kaya adalah hal yang tidak manusiawi. Timbulah satu pertanyaan di benak saya apakah salah menjadi orang kaya atau bermimpi menjadi orang kaya?

Kritikan terhadap kebijakan liberal sering sekali tidak tepat sasaran atau hanya dibuat-dibuat untuk melindungi kepentingan-kepentingan segelintir kelompok tertentu. Para golongan anti-liberal cenderung menilai kebijakan liberal tidak mempedulikan sistem jaminan negara.

Sistem jaminan negara  seperti dana kesehatan, asuransi wajib, sekolah gratis dan bentuk lainnya memang melindungi orang miskin, tapi sistem jaminan tidak sosial tidak bisa memperpendek jarak kesenjangan sosial atau dengan kata lain tidak bisa memperkaya “si miskin”. Kedua jaminan sosial yang berlebihan dan tidak tepat sasaran hanya akan membebankan negara untuk berkembang lebih maju.

Salah satu pokok dari nilai liberal adalah pemusatan individu. Individu yang bekerja atau berusaha untuk tujuan sendiri akan meningkatkan tujuan orang lain dan tindakan apa yang baik bagi individu umumnya juga baik bagi masyarakat. Sekilas gagasan ini terkesan egosentris, tapi makna yang terkandung di dalamnya mencerminkan kenyataan yang tidak kita sadari secara langsung.

liberal
French revolution. gambar : theguardian

Secara sederhana ketika kita fokus, konsentrasi, kerja dan berusaha tak kenal lelah untuk meraih tujuan kita secara bersih dan benar maka kita akan menghasilkan dampak terhadap lingkungan sekitar dan orang lain. Contohnya seorang pengusaha yang mulai dari bawah dan berhasil meraih sukses dapat mempekerjakan orang lain. Contoh lainnya seorang murid yang giat belajar untuk mendapatkan nilai baik dapat menjadi sumber inspirasi bagi murid-murid lainnya untuk berkembang dan meraih nilai yang lebih baik.

Dari kedua contoh diatas aspek sosial muncul sebagai dampak yang dihasilkan oleh tindakan-tindakan individu. Salah satu kunci penting dari keberhasilan tindakan-tindakan individu untuk meraih tujuan dan memaksimalkan potensi mereka adalah tanggung jawab sosial. Ketika individu bertanggung jawab secara sosial tindakan yang dia lakukan tidak akan merugikan orang lain secara sengaja dan lebih pentingya dia akan mempertanggung jawabkan tindakan yang dia lakukan tanpa paksaan dari kelompok masyarakat tertentu.

Tentunya perlu diggarisbawahi juga bahwa individu adalah mahluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri dan butuh kelompok ataupun organisasi untuk meraih potensinya secara maksimal. Seperti dalam pertandingan sepak bola seorang pemain dengan kemampuan di atas rata-rata tidak akan berhasil memenangkan pertandingan tanpa rekan setimnya. Namun ketika sepak bola menganut sistem sosial maka semua pemain akan memainkan satu peran yang sama yang akan membuat permainan rapuh dan tidak flexibel.

liberal
equality. gambar : lsunow.com

Sedangkan apabila sepakbola mengadopsi sistem liberal kesebelasan individu akan ditempatkan ke dalam posisi dimana para individu tersebut bisa mengeluarkan semua potensi yang mereka miliki yang membuat permainan menjadi lebih berwarna dan sulit ditebak oleh lawan.

Aspek yang paling sosial dari Liberalisme adalah prinsip non-diskriminasi. Bunyi dari prinsip non-diskriminasi dalam dunia pekerjaan adalah memberikan kesempatan yang sama dan perlakuan yang adil dan merata dalam pekerjaan untuk semua orang tanpa memandang ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, asal negara, usia, cacat, afiliasi politik, status pernikahan, atau orientasi seksual.

Orang yang terlahir miskin dan orang yang terlahir kaya dikarenakan nasib dapat menentukan dan merubah nasib mereka sendiri ke jalan yang lebih baik atau buruk.  Persamaan kesempatan akan menghasilkan persaingan yang sehat dan inovasi tanpa batas yang memberikan solusi terhadap permasalahan manusia sekaligus menjawab tantangan-tantangan dunia global.

Tidak ada salahnya untuk bermimpi menjadi orang kaya yang sukses. Menjadi kaya karena potensi individu, kerja keras dan kompetisi sehat adalah hal yang sangat wajar. Sedangkan menjadi miskin karena negara yang tidak menjamin persamaan kesempatan dan menutup mata pada praktik diskriminasi adalah sebuah bentuk kejahatan yang tidak termaafkan.

 


Oleh : Ingo Batavia Hauter


 

Facebook Comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mission News Theme by Compete Themes.