Press "Enter" to skip to content

Membahas Stunting Bersama Fasli Jalal

Stunting merupakan sebuah permasalahan yang dapat mempengaruhi ekonomi negara karena berpengaruh terhadap kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) sebuah negara. Secara sederhana stunting bisa diartikan sebagai gagalnya seseorang mencapai potensi pertumbuhan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Bank Dunia, kekurangan gizi anak disuatu negara dapat menimbulkan kerugian 2,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB) negara tersebut. Maka dari itu isu stunting ini diangkat menjadi sebuah agenda strategis dalam rangkaian acara pre-event Pertemuan Tahuan IMF-WBG 2018 yang akan diselenggarakan di Bali nanti.

Agenda stunting ini diangkat dalam sebuah seminar yang bertajuk ‘Strategi Multi Sektor dalam Penanganan Stunting’. Isu penanganan stunting ini akan menjadi salah satu showcase Indonesia dalam Pertemuan Tahunan IMF – WBG 2018.

Terdapat enam orang narasumber yang menjadi pembicara dalam seminar ini dan juga dua orang moderator dimana salah satunya ialah Fasli Jalal yang merupakan Dewan Pembina Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI).

Seusai seminar, kami menghampiri Fasli Jalal yang sedang berbincang dan bergurau bersama dengan beberapa pembicara lainnya. Kamipun menghampiri Fasli Jalal untuk mengajaknya berbincang beberapa saat mengenai isu stunting ini. Mendengar permintaan kami, Fasli Jalal pun mengiyakan permintaan obrolan kami.

“Tentu!” jawab pria yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Pendidikan Nasional dalam Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II tersebut sambil melempar senyum. Kemudian kamipun berbicang mengenai stunting.

 

Stunting Cycle. pic: Concern Worldwide

Menurut Bapak Fasli Jalal, bagaimana kondisi stunting di Indonesia saat ini?

Pemerintah mulai melakukan pemeriksaan, berapa sih sebetulnya anak stunting kalau dengan memakai patokan tinggi badan tadi menurut umur. Tahun 2007 oleh Kementerian Kesehatan dilakukan Riskesdas atau riset kesehatan dasar. Ternyata angkanya 36%, kan tinggi lebih sepertiga.

Diukur lagi tahun 2010, angkanya turun jadi 35%. Kemudian tahun 2013 naik lagi menjadi 37% atau hamper 9 juta anak mengalami stunting.

Akhirnya pemerintah menyadari sekarang dikoordinasikan penuh, bukan lagi tingkat kementerian, tapi tingkat presiden langsung, dan itu dihitung benar program mana yang akan masuk, berapa jumlah sasarannya, berapa uang yang diperlukan, bagaimana program ini berjalan secara konvergen.

Kondisi stunting paling mudah dilihat dari apa?

Dari tinggi badan, ya karena per definisi adalah gagal tumbuh namanya. Jadi anak yang gagal tumbuh, karena kurang gizi, dan itu digambarkan oleh tingginya pertumbuhan linear atau tinggi badan yang tidak mencapai potensi dia.

Walaupun fisiknya sebetulnya gak beda dengan anak yang lain. Kalau gizi buruk kan kurus, cekung, apa gitu kan itu agak mengerikan. Tapi kalau anak hanya gagal tumbuhnya berapa cm, orang disekitarnya kadang juga tidak tahu bahwa anak itu stunting.

Penanganan stunting ini kan melibatkan multi sektor, tandanya akan ada banyak stakeholders. Menurut anda bagaimana caranya agar para stakeholders ini terkoordinasi dan tidak terjadi miskomunikasi?

Pertama, data dulu, sebab kalau kita gak tahu siapa anak yang stunting, kita ga bisa orang ngeroyok. Jadi dari sekarang sudah dianjurkan oleh pemerintah, semua desa harus memeriksa anaknya paling tidak yang dibawah lima tahun, dan dari pemeriksaan tinggi badan berdasarkan umur itu, kita tahu siapa yang stunting.

Nah berarti kita tahu ini anaknya siapa, keluarganya dari keluarga mana, lokasinya dimana, dan kemudian dibuatlah profil dari keluarga ini. Nanti kalau profil ini sudah lengkap, maka sinergitas tadi, jadi lintas sektor maupun dari semua stakeholders termasuk CSR perusahaan bisa langsung membantu.

Kemudian dikoordinasikan riset itu agar semua program baik program pemerintah, baik pemerintah daerah, baik program desa, baik program dari LSM, baik program dari perusahaan itu bisa masuk bersama-sama. Koordinasi ini dimungkinkan kalau datanya ada.

Kegiatan seminar kita ini kan salah satu acara pre-event Pertemuan Tahunan IMF-WBG 2018. Perlukah tema ini diangkat?

Sebenarnya oleh bank dunia sudah lama diangkat. Sejak Ibu Sri Mulyani di Bank Dunia dulu dan bahkan sebelumnya lagi, stunting ini sudah menjadi program pembangunan yang perlu ditingkatkan.

Dulu Bank Dunia hanya kemiskinan saja, tapi ternyata bagian terbesar dari kemiskinan itu berdampak pada stunting. Ternyata stunting ini mempengaruhi kualitas sumber daya, mempengaruhi kemampuan bersaing dan mempengaruhi ekonomi.

Nah pengangkatan isu ini tergambar juga dalam setiap pertemuan tahunan termasuk pertemuan tahunan besok di Bali itu.

Penanganan stunting bisa dibilang adalah sebuah program jangka panjang, karena penanganannya tentu tidak instan. Menurut anda, langkah yang dekat dan realistis untuk dilakukan itu apa?

Awalnya tentu dari keluarga, dari sejak persiapan calon pengantin untuk menjaga kesehatan. Nah begitu dia menikah, bagaimana keluarga menyiapkan diri sebelum istrinya hamil. Kemudian berikan makanan tambahan kalau tumbuhnya janin itu tidak sesuai.

Nah tapi kalau lahir tidak stunting bukan berarti selesai, kalau kita tidak memberikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama, itu kemungkinan jatuh stunting ada lagi. Nah apalagi kalau anak sering infeksi karena imunisasi yang tidak jalan.

Apalagi kalau di rumahnya juga banyak kotoran karena beraknya tidak di WC. Jadi perlu jaga kebersihan. Itu kapanpun harus dilakukan, gak perlu menunggu program hebat-hebat.

 

 


Oleh : Putu Radar Bahurekso
t : @puturadar | ig : putu.radar


 

Facebook Comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mission News Theme by Compete Themes.