Press "Enter" to skip to content

Review, Captain Marvel (2019)

Salah satu keunggulan film superhero kini adalah sudah terbangunnya sebuah narasi besar dan dunia kohesif yang kita sebut juga dengan istilah universe (seperti MCU atau DCEU). Hal ini mampu mengundang terbangunnya diskusi-diskusi serius yang diimbangi dengan ekspektasi tinggi dari penontonnya terhadap film-film selanjutnya.

Misalnya ketika para penggemar Marvel ikut kedalam diskusi Team Cap atau Team IronMan saat masa penayangan Captain America: Civil War. Kini, paska Infinity War pun para penggemar Marvel ikut terbawa kedalam diskusi mengenai masa depan para pahlawan Marvel setelah Thanos menyentikan jarinya dan sebagian isi dunia menghilang.

Infinity War menggiring ekspektasi penonton kedalam diskusi masa depan dari Marvel Cinematic Universe (MCU). Kali ini, pihak Marvel Studios melakukan sebuah langkah yang menarik, mereka tidak langsung menjawab diskusi yang hadir ini. Namun memperlambat ‘irama’ perjalanan dunia universe Marvel dengan mundur beberapa langkah kebelakang.

Setelah sebagian isi bumi menghilang akibat Thanos, Marvel tidak langsung ‘tancap gas’. Mereka justru memperkenalkan sebuah tokoh baru yang bernama Captain Marvel, yang dimana sosok ini akan menjadi sosok penting dalam perjalanan MCU kedepannya.

Captain Marvel adalah film pertama dari Marvel Cinematic Universe yang akhirnya mengangkat sosok superhero wanita sebagai tokoh protagonis utama. Meskipun sebelumnya sudah ada superhero wanita Marvel yang mendapatkan adaptasi film yakni Elektra (2005) namun sayangnya filmnya payah.

Captain Marvel
Captain Marvel Scene. pic: Marvel Studios

Disutradarai oleh Anna Boden dan Ryan Fleck (Half Nelson, Sugar, dan Mississippi Grind), Captain Marvel tidak langsung melanjutkan cerita paska Infinity War. Film ini justru tampil layaknya film superhero tunggal pada umumnya dengan lebih menekankan pada pengenalan tokoh Captain Marvel sendiri.

Yang menarik dari film ini adalah kita tidak langsung diperkenalkan kepada sosok Captain Marvel selaku superhero ataupun Carol Danvers sebagai sosok manusia dari Captain Marvel. Melainkan kita disuguhkan sosok Vers (Brie Larson) yang merupakan pasukan dari bangsa Kree. Vers diceritakan memiliki kekuatan yang luar biasa namun tidak bisa ia kontrol sendiri sehingga harus dimentori oleh salah seorang petinggi pasukan Kree yakni Yon-Rogg (Jude Law).

Bangsa Kree memiliki misi untuk mengalahkan bangsa alien lainnya yang dapat berubah wujud yakni bangsa Skrull. Dalam perjalanan Vers mencari Skrull di bumi, ia tak sengaja menemukan serpihan ingatan masa lalunya saat ia masih tinggal di bumi dimana kemudian Vers berusaha untuk mencari tahu tentang jati dirinya.

Disini Captain Marvel tampil unik ketimbang film superhero yang lain, Captain Marvel tampil dengan tiga sosok alter-egos yang membuat film ini juga menghadirkan permasalahan cerita yang lebih kompleks dengan hubungan karakter yang lebih lebar dan tersekat dalam masing-masing alter-ego.

Hal ini membuat film Captain Marvel tidak mampu tampil mulus dan sempurna dalam penyampaian ceritanya. Captain Marvel tampak cukup kesulitan dalam mengatur narasi-narasi yang muncul agar berjalan secara kohesif dan mulus. Terlalu banyak hal yang ditampilkan bersamaan, mulai dari perselisihan bangsa Kree dan Skrull, bayangan masa lalu Carol Danvers, hubungan interaksi Carol Danvers dengan Nick Fury (Samuel L. Jackson) ataupun makhluk bumi lainnya, dan juga kehadiran Supreme Intelligence dan Mar-Vell / Dr. Wendy Lawson (Annete Bening) yang mengawang.

Captain Marvel
Captain Marvel Scene. pic: Marvel Studios

Beberapa kali narasi-narasi ini tampil berantakan dan tidak rapih saat disampaikan meskipun pada akhirnya keseluruhan narasi ini masih dapat tersimpulkan dengan baik dan ditampilkan secara menghibur.

Tidak seperti film superhero lainnya yang kuat dalam menggunakan CG dalam mendukung visual. Captain Marvel justru tidak terlalu banyak menggunakan CG yang pada akhirnya justru kurang memberikan wow-effect yang biasa diberikan oleh film action superhero.

Disisi lain, film Captain Marvel justru memberikan injeksi berupa sentuhan 90s pop-culture melalui sentuhan sinematografinya dan juga beberapa backsound. Hal ini membuat film ini dalam beberapa tampilan visual, cerita, dan dialog tampak lebih fun, lebih playful, dan lebih santai.

Meski Captain Marvel menjadi sebuah ‘langkah lambat’ dalam penuturan narasi besar Marvel Cinematic Universe, namun film ini bisa menjadi landasan yang kuat untuk mengikuti perkembangan dan memahami sebab-akibat yang akan diceritakan berikutnya melalui Avengers: Endgame ataupun film Marvel lainnya.

Disisi lain, Captain Marvel juga membuka banyak ruang kesempatan baru bagi banyak tokoh-tokoh Marvel yang mungkin bisa difilmkan kedepannya. Captain Marvel sudah memperluas kemungkinan cerita dalam cosmic-story Marvel dan juga cerita dengan latar belakang 90s yang ada pada superhero Marvel lainnya.

 

Our Score (7/10)

Judul                     : Captain Marvel
Produksi              : Marvel Studios
Sutradara            : Anna Boden, Ryan Fleck
Penulis Cerita    : Anna Boden, Ryan Fleck, Geneva Robertson-Dworet
Cerita Asli           : Komik (Captain Marvel oleh Stan Lee dan Gene Colan, dan Carol Danvers oleh Roy Thomas dan Gene Colan)
Pemeran             : Brie Larson, Samuel L. Jackson, Ben Mendelsohn, Jude Law, Annette Bening, Lashana Lynch.


Oleh : Putu Radar Bahurekso
t : @puturadar | ig : putu.radar


Facebook Comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mission News Theme by Compete Themes.