Press "Enter" to skip to content

Review, Detective Conan: The Fist of Blue Sapphire (2019)

Film Detective Conan: The Fist of Blue Sapphire (Meitantei Konan: Konjo no Fisuto) adalah film ke 23 dari seri Detective Conan The Movie yang ditayangkan setiap tahun. Film ke 23 ini menjadi sesuatu yang spesial, karena ini kali pertama seri Detective Conan The Movie menggunakan setting diluar Jepang, film ini memiliki latar tempat di Singapura.

Seperti dalam judulnya yakni The Fist of Blue Sapphire, cerita film ini berputar pada kasus yang ditimbulkan oleh keberadaan sebuah batu mulia yang bernama Blue Sapphire.

Dalam film ini diceritakan bahwa Edogawa Conan mendapati dirinya berada di Singapura untuk menyelesaikan sebuah kasus konspirasi pembunuhan yang melibatkan Kaito Kid sebagai pelaku utama pembunuhan, yang rencananya berniat untuk mencuri Blue Sapphire.

Seperti film Detective Conan biasanya, film ini langsung dimulai dengan penjelasan masalah dan kasus inti. Seorang pengacara terbunuh di dalam lobby sebuah gedung, di lokasi pembunuhan kemudian ditemukan kartu peringatan yang dikirimkan oleh Kaito Kid yang membuat dirinya dicurigai oleh polisi sebagai dalang pembunuhan.

The Fist of Blue Sapphire
Adegan film. Pic: TMS Ent

Kemudian film ini dimulai dengan Conan mendapati dirinya tiba-tiba berada di Singapura setelah diselundupkan oleh Kaito Kid dalam sebuah koper. Kid memintanya untuk memecahkan kasus yang melibatkan dirinya.

Disisi lain, di Singapura sedang diadakan kejuaraan bela diri yang berhadiahkan permata Blue Sapphire. Dalam turnamen tersebut ikut serta juga Makoto Kyogoku yang dalam film kali ini memiliki peran cukup vital.

Adegan di awal film saat Kaito Kid berusaha untuk menyusup rumah dan melihat Blue Sapphire langsung mengangkat tensi yang dibawa oleh film ini. Adegan pencurian dan kejar-kejaran ini dikemas dengan baik dengan pengambilan gambar yang dinamis mampu memperlihatkan setiap aksi, ekspresi, dan juga kekacauan yang ditimbulkan.

Film Detective Conan kali ini memperlihatkan hasil produksi animasinya yang semakin memukau dan semakin jelas. Gambarnya semakin tajam dan juga gerakan setiap tokohnya yang semakin detail dan dinamis.

The Fist of Blue Sapphire
Adegan film. pic: TMS Ent

Yang membuat film ini menarik juga adalah kolaborasi antara Conan dan Kaito Kid yang biasanya tampil sebagai lawan, namun kini bekerja dalam sisi yang sama. Terlebih lagi melihat perbedaan cara pandang, cara kerja, dan sikap kedunya yang kerap kali menampilkan adegan-adegan yang menghibur.

Hubungan Shinichi/Conan dengan Ran kurang begitu dielaborasi dalam cerita kali ini, namun yang mampu menarik perhatian adalah interaksi antara Makoto dan Sonoko yang kadang jenaka dan kadang serius. Pasangan ini mampu menghadirkan warna yang segar dalam cerita Detective Conan.

Salah satu yang kurang dari film Detective Conan kali ini adalah ceritanya yang terkesan berjalan terlalu mulus tanpa rintangan yang berarti sehingga membuat kurang nendangnya bagian klimaks dan rasa tegang yang ditimbulkan bagi penonton. Jalan ceritanya juga terlalu mulus untuk versi the movie ini, dan lebih tampak seperti special story ataupun OVA.

Film Detective Conan: The Fist of Blue Sapphire masih mampu tampil menghibur meskipun tak sebaik film sebelumnya, Zero The Enforcer. Banyak hal menarik yang ditampilkan oleh film ini, namun yang paling menarik perhatian tentu adalah sosok Kaito Kid yang terlihat lebih manusiawi saat terjebak sebagai pelaku kasus pembunuhan.

Our Score (7/10)

 

 

Judul                     : Detective Conan: The Fist of Blue Sapphire
Produksi              : TMS Entertainment
Cerita                    : Takahiro Okura
Sutradara            : Tomoka Nagaoka

 

 

 

 


Oleh : Putu Radar Bahurekso
t : @puturadar | ig : putu.radar


 

Facebook Comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mission News Theme by Compete Themes.