Press "Enter" to skip to content

Review, Netflix’ Death Note (2017)

Death Note adalah anime manga Jepang yang sangat populer. Di Jepang sendiri, Death Note sudah memiliki empat film versi live action dan kini ceritanya juga diadaptasi kedalam bentuk live action versi Amerika oleh Vertigo Entertainment.

Saya kurang begitu senang sebetulnya ketika mendengar kabar bahwa Death Note yang merupakan salah satu manga favorit saya akan diadaptasi kedalam versi Amerika. Bukan karena whitewashing atau alasan sejenisnya, saya sih ga begitu peduli sama whitewashing kek, atau blackwashing, atau apapun itu selama aktornya kompeten, this is creative industry dude. Yang menurut saya masalah adalah, selama ini Hollywood belum berhasil membuat sebuah film adaptasi anime manga Jepang dengan baik. 

Film ini pun memiliki plot cerita yang mirip dengan cerita aslinya. Seorang pemuda bernama Light Turner (Nat Wolff) memiliki prinsip untuk memusnahkan kejahatan didunia dengan menggunakan Death Note. Dalam melakukan aksinya, Light dibantu oleh seorang wanita yang juga menjadi kekasihnya bernama Mia Sutton (Margaret Qualley). Kemudian sosok L (LaKeith Stanfield) dan juga Watari (Paul Nakauchi) menjadi tokoh yang akan menghadapi Light dan Mia.

Banyaknya kemiripan plot cerita yang diadaptasi dari anime dan manga Death Note inilah yang membuat film nya kali ini justru tampil buruk. Ceritanya berantakan dengan berbagai sub-plot dan adegan yang sebetulnya tidak perlu.

L. Gambar : Vertigo Ent.

Film Death Note ini memiliki banyak sekali plot twist didalamnya, berbagai adegan dalam manga Death Note dimunculkan kembali dalam film ini namun tanpa arah yang jelas. Sehingga cerita film ini terasa penuh sesak dan dipaksakan, membuat penonton tidak mampu fokus dan mendapatkan suatu cerita yang benar-benar inti dan menjadi premis dasar film.

Sebetulnya akan lebih baik jika Adam Wingard tidak terlalu banyak mengadaptasi cerita asli Death Note nya, dan membuat plot cerita sendiri dengan proses kreatif yang berbeda dan sentuhan tersendiri khas Amerika. Namun hal ini tidak ia lakukan.

Sudah memiliki cerita yang sangat padat, film ini juga masih menjelaskan fungsi buku Death Note dengan detil dalam kurun waktu yang cukup panjang. Padahal hal-hal mengenai peraturan ini cukup dijelaskan yang dasarnya saja, sehingga film ini bisa memberikan ruang lebih untuk plot cerita utama.

Karakter-karakter dalam film ini juga terasa kurang maksimal. Sosok Light Turner terasa seperti versi KW dari Light Yagami. Kemudian juga sosok Ryuk (Willem Dafoe) yang sering kali muncul dalam saat yang sangat random, sosok Ryuk juga sebetulnya tidak terlalu perlu untuk dimunculkan dalam film yang dibuat “versi Amerika” nya ini.

Mia Sutton. Gambar : Vertigo Ent.

Kemudian juga tokoh Watari yang hanya terlihat berguna disaat film ini sudah mau menjelang klimaks. Lalu yang sebetulnya tidak perlu adalah sosok Mia yang sering kali memunculkan banyak hal yang juga ga perlu seperti sub-plot romantis nanggung yang tidak pernah berkembang, ikut-ikutan ingin menggunakan Death Note tanpa alasan yang jelas, dan juga berbagai tindakan yang justru menggaggu pertarungan antara Kira (nama samaran Light) dan L.

Berbagai kekurangan tersebut memperlihatkan sebuah hal krusial yang menjadi penyebab utama penampilan buruk dari film ini. Ialah kekosongan dari pertarungan analisis yang intens dan juga perdebatan ideologi terhadap sebuah tujuan yang sama dengan jalan yang berbeda oleh Kira dan L. Padahal dua hal tersebutlah yang sebetulnya menjadi hidangan utama dari Death Note, sebuah ide tentang masyarakat yang bebas dari kejahatan yang dilihat dari dua ideologi dan sudut pandang berbeda.

Namun dibalik segala kekurangannya, film ini tetap mampu tampil stylish dengan visual dan sinematografi yang menawan. Tak hanya itu, film ini juga berani menampilkan sentuhan slasher pada berbagai adegan kematian sehingga memunculkan wow effect yang lebih kuat. Death Note kali ini tidak ragu untuk menampilkan adegan kematian yang sadis.

Hasil film Death Note ini pun masih memperlihatkan bahwa Hollywood memang masih belum mampu mengadaptasi cerita yang berasal dari produk budaya Asia dengan sentuhan tersendiri khas Amerika. Tapi setidaknya film Death Note ini tampil lebih baik daripada film-film live action adaptasi anime dan manga yang sebelumnya pernah dibuat oleh Amerika.

 

Our Score (5,5/10)

 

 

Judul                     : Death Note
Produksi              : Vertigo Entertainment
Sutradara            : Adam Wingard
Penulis                  : Charley Parlapanides, Vlas Parlapanides, Jeremy Slater
Cerita Asli            : Death Note oleh Tsugumi Ohba dan Takeshi Obata
Pemeran              : Nat Wolff, LaKeith Stanfields, Paul Nakauchi, Margaret Qualley, Willem Dafoe, Shea Whigham

 

 

 


Oleh : Putu Radar Bahurekso
t : @puturadar | ig : putu.radar


 

Facebook Comments

One Comment

  1. BestShayne February 20, 2018

    I see you don’t monetize your page, don’t waste your traffic, you can earn additional bucks every month because you’ve got hi quality content.
    If you want to know how to make extra $$$, search for: Ercannou’s essential tools best adsense alternative

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mission News Theme by Compete Themes.