Press "Enter" to skip to content

Sherlock Holmes, Tokoh Yang Merubah Dunia

Seorang penulis bernama Arthur Conan Doyle membuat Detektif Sherlock Holmes terdorong hingga jatuh dari tepi Air Terjun Reichenbach, Swiss (tentu lokasi ini merupakan lokasi fiksi).

“Dengan berat hati saya mengambil pena saya dan benar-benar melakukannya (mendorong Sherlock Holmes hingga terjatuh) pada seorang detektif yang begitu terkenal itu,” ungkap narator Dr. John Watson dalam cerita Conan Doyle yang berjudul ‘The Final Problem’ yang muncul dalam majalah The Strand pada bulan Desember di tahun 1893.

Conan Doyle sendiri nampak kurang emosional dalam catatan buku hariannya. “Bunuh Holmes,” tertulis begitu sederhana. Dapat dibayangkan seorang Conan Doyle, dengan rambut klimis kebelakangnya, berkilau diterpa cahaya lilin saat itu, dengan bentuk kumis berputar-mengerucut-kearah-atas miliknya. Terhadap karakter ciptaannya yang terkenal itu ia mengatakan,”saya rasa sudah cukup segala sesuatu tentang dia. Menulis tentangnya sama seperti makan terlalu banyak, nampaknya saya mual mendengar namanya.”

Ia mungkin hanya berpikir untuk membuat Holmes tewas, kemudian turun cetak. Sudah, itu saja. Bila benar begitu adanya, maka Doyle tidak benar-benar mengerti penggemarnya (atau lebih tepatnya penggemar Sherlock Holmes).

Reaksi publik saat mengetahui kematian seorang detektif ternama itu rupanya tidak biasa, dan tidak pernah terjadi sebelumnya. Lebih dari 20.000 pembaca The Strand memutuskan untuk tidak berlangganan majalah itu lagi. Hal ini dipicu oleh kematian Holmes yang dinilai prematur. Pihak majalah berjuang dengan susah payah agar tidak bangkrut. Bahkan, salah seorang stafnya mengeluarkan pernyataan bahwa kematian Holmes merupakan hal yang “sangat menakutkan”.

Sejarah juga mencatat bahwa saat itu seluruh anak muda di London menggunakan setelan hitam, seakan-akan hendak berangkat ke pemakaman. Hal ini dilakukan selama satu bulan penuh sejak kematian Holmes. Beberapa penggemar setia bahkan melakukan protes dengan cara mengirimkan surat pada Conan Doyle yang berbunyi “Kau seperti binatang!”

Bahkan, pembacanya di Amerika membentuk klub bernama ‘Let’s Keep Holmes Alive (Biarkan Holmes Hidup)’.

Hal ini mungkin sudah biasa terjadi di internet pada tahun 2015. Namun pada masa itu, Conan Doyle memiliki semua alasan di dunia untuk terkejut terhadap semua perkataan pedas tersebut. Pasalnya, penggemar apapun dimanapun tidak pernah melakukan hal itu (Sebenarnya, mereka bahkan tidak bisa dikategorikan sebagai ‘penggemar’ biasa. Namun, penggunaan kata ‘fanatik’ baru muncul jauh setelah itu, yakni pada masa keemasan American Basbeball).

Biasanya, pembaca akan dengan lapang dada menerima segala sesuatu yang terjadi atas tokoh utama dalam bacaan favorit mereka. Hingga akhirnya hal ini terjadi. Tampaknya saat itu para penggemar mulai membentuk budaya pop mereka sendiri, dengan berekspektasi agar segala sesuatu terjadi atas kehendak mereka.

foto : theguardian
foto : theguardian

 

Penggemar Fanatik

Penggemar berat Sherlock Holmes membantu menciptakan masa yang lebih modern dari ‘fandom’ (istilah untuk penggemar yang mengabdikan bagian hidupnya bagi apa yang digemarinya). Yang cukup menarik disini yaitu, intensi terhadap Holmes telah diantisipasi hingga sekarang. Hal ini dapat dilihat dari munculnya serial Sekolah Dasar ‘Pemecahan Kasus Kriminal di AS’, selain itu ada juga BBC’s Sherlock yang dikemas dengan Era Victoria yang lebih modern.

Sherlock Holmes pertama kali muncul pada tahun 1887 dalam sebuah novel yang berjudul A Study in Scarlet. Ia sudah sangat populer bahkan disaat kemunculannya (terlalu populer sampai-sampai Conan Doyle merasa menyesal pernah membuatnya. Hal ini dikarenakan Holmes jauh lebih terkenal dibanding karya utama Doyle, yaitu novel bersejarah Micah Clarke). Sejak kemunculannya, pembaca rela berbaris didepan toko buku untuk mencari majalah The Strand terbaru. Hal ini semata-mata untuk bisa membaca edisi baru dari Holmes. Karena hal ini, seorang sejarawan menjuluki Conan Doyle sebagai “Ratu Victoria”.

Penggemar Holmes sejatinya merupakan masyarakat tingkat menengah, yang kebetulan merupakan kelas masyarakat yang gemar memberikan cemoohan seenaknya terhadap segala sesuatu yang, bahkan, digemarinya. Seorang sejarawan bernama David Payne menggambarkan mereka sebagai “masyarakat menengah kebawah, non-intelektual, tidak berpendidikan, pekerja keras, yang merupakan kekuatan masyarakat yang sesungguhnya.”

Majalah The Strand sendiri telah menargetkan mereka dengan menghadirkan cerita yang menarik, konsep cerita unik bergenre misteri dan sci-fi dari penulis-penulis seperti HG Wells dan Jules Verne.

Permintaan terhadap kisah Holmes seakan abadi. The Strand berkenan untuk membayar Conan Doyle berapapun harganya atas segala yang ia tulis tentang Holmes. Namun, nampaknya ia tidak mau menghabiskan seluruh hidupnya hanya untuk memecahkan teka-teki kriminal fiktif. Yang ia inginkan hanya menghasilkan uang untuk menghidupi karya-karya seninya.

Pada tahun 1893, dimana Conan Doyle berusia 34 tahun, ia merasa bahwa semuanya telah cukup. Maka dari itu, ia menuliskan kisah Holmes terakhir, dimana ia didorong hingga terjatuh dari air terjun oleh professor jahat bernama Moriarty. Cerita ini bertahan selama delapan tahun, hingga akhirnya pada tahun 1901, tekanan publik nampak terlalu besar sampai-sampai Conan Doyle menuliskan kisah baru berjudul The Hound of the Baskervilles, sebuah cerita mengenai Holmes sebelum ia terjatuh.

Di tahun 1903, dalam The Adventure of The Empty House, ia membuat satu langkah besar dalam sejarah yakni kebangkitan Sherlock Holmes. Dijelaskan dalam kisah itu Holmes memalsukan kematiannya. Sebaliknya, Moriarty-lah yang terjatuh hingga tewas di air terjun tersebut. Penggemar bersorak-sorai.

The key to Holmes’ enduring success may be his adaptability to each age – Basil Rathbone’s 1940s Holmes films were set in the present and had him fight Nazis (Credit: Wikipedia)

 

Kehidupan Setelah Kematian

Sherlock Holmes
Sherlock Holmes. pic : bigthink.com

Penggemar Holmes menjadi semakin obsesif sejak saat itu. Satu-satunya perbedaan dengan saat ini adalah kita sudah terbiasa dengan penggemar fanatik (super-fandom). Faktanya, saat ini penggemar Holmes sudah menjamur secara global.

Di Cina, penggemar telah disajikan sebuah pengemasan yang rumit tentang Sherlock Holmes (yang mereka kenal dengan sebutan “Curly Fu”) dan Watson sebagai pasangan gay. Penggemar di Jepang dikenyangkan oleh cerita-cerita Holmes dalam balutan manga. Grup musik Korea yang dikenal dengan nama SHINee membuat sebuah tribute song untuk Holmes dengan sebuah lagu berjudul Sherlock.

Tentu, kemampuan Sherlock dalam memecahkan teka-teki kriminal mampu menciptakan intensi emosi khusus dengan para penggemarnya. Namun yang menjadi catatan penting adalah penggemar Sherlock Holmes telah bertahan selama 120 tahun, dan mereka bertambah banyak seiring dengan adanya adaptasi cerita yang terus menerus terjadi.

Co-creator dari serial BBC Sherlock kini, Mark Gatiss mengatakan bahwa karakter Sherlock Holmes merupakan karakter yang tak akan termakan oleh waktu.

“Lebih dari segalanya, apa yang orang dapatkan dan harapkan adalah pertunjukan yang menyenangkan, dan Sherlock Holmes adalah yang paling mendekati hal ini,” ujar Gatiss.

Gatiss juga menambahkan bahwa Holmes adalah satu-satunya cerita fiksi detektif yang orisinil. Seiring berjalannya waktu, kemunculan-kemunculan cerita detektif tidak lebih dari tiruan cerita Sherlock Holmes.

“Segala yang muncul kemudian hanyalah tiruan orang terhadap hasil Sherlock dan Doctor Watson. Agatha Christie jelas-jelas melakukannya dengan menciptakan Poirot dan hanya dibedakan lewat penggambaran karakternya. Ia membutuhkan Watson, maka ia menciptakan Captain Hastings. Kemanapun engkau beranjak, Holmes adalah modelnya. Itulah kenapa karakter ini tidak dapat disingkirkan,” jelas Gatiss.

Dengan kata lain, mendorong Sherlock Holmes jatuh dari tebing sekalipun tidak akan mampu membunuhnya. Usaha apapun hanya akan berakhir sia-sia. Ia akan kembali hidup, entah sekarang atau nanti. Selama penggemar menginginkannya, ia akan selalu ada.

 

Sumber : Jennifer Keishin Armstrong / BBC

 

 


Oleh : Ayub Litbagay
t : @ayubjonn | ig : ayubjonn


 

Facebook Comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mission News Theme by Compete Themes.