Press "Enter" to skip to content

Sistem Belajar 8 Jam Sehari di Sekolah, Efektif ?

Banyak sekolah-sekolah di Indonesia yang menggunakan sistem pembelajaran 8 jam sehari. Para siswa diwajibkan untuk masuk pukul 7 pagi dan baru akan pulang pukul 3 sore. Dipandang sekilas, memang sistem ini terlihat baik dan menjanjikan bagi para orang tua, pasalnya, sistem ini mengizinkan murid untuk menghabiskan waktu lebih di sekolah, yang juga berarti mereka diperbolehkan untuk menimba ilmu lebih. Menghabiskan waktu di sekolah juga dinilai lebih baik untuk dijalani para murid dibandingkan dengan mereka menghabiskan waktu di rumah atau di luar untuk bermain.

Walaupun terlihat sebagai suatu sistem yang baik bagi pembelajaran murid, sistem ini tidaklah efektif karena tidak memberikan waktu istirahat bagi otak.

Memang benar, dengan belajar 8 jam sehari, murid-murid dapat menimba ilmu lebih. Hal ini juga memperbolehkan para murid dan para guru untuk mencapai kuota pembelajaran yang harus mereka capai dengan waktu yang tidak lama, 2 semester dan 6 bulan untuk tiap semester. Coba bayangkan jika kegiatan belajar dan mengajar hanya berlangsung dalam 5 jam per hari, akan butuh waktu yang lebih lama untuk mencapai kuota yang sudah ditentukan. Bukan hanya itu, guru-guru juga diminta untuk mengajarkan materi lebih cepat dari seharusnya, yang tentunya akan mempengaruhi pengertian murid akan materi yang diajarkan. Karena itu, untuk alasan ini metode 8 jam per hari memanglah bagus untuk digunakan.

Namun perlu diingat juga, bahwa murid-murid serta para guru memerlukan jam dimana mereka dapat mengistirahatkan baik badan maupun pikiran mereka. Sejauh ini sekolah memberikan 2 kali istirahat bagi para murid dan guru, yang biasanya memberikan 15 menit bagi mereka untuk beristirahat serta jam istirahat untuk makan siang. Sistem ini dinilai kurang baik untuk badan. Mengapa? Belajar terus-menerus dan hanya diperbolehkan untuk beristirahat selama 15 menit tidaklah cukup. Otak akan lelah jika dipakai terus-menerus, terutama pada siang hari, waktu-waktu dimana baik badan maupun otak sudah lelah akan aktivitas-aktivitas sebelumnya.

Sedikit mengutip dari artikel ‘Efektifkah Sekolah 8 Jam?’ oleh Faris Kartawijaya, “terus-menerus belajar dan hanya diberi waktu istirahat dua kali maka otakpun akan lelah, apalagi saat jam-jam siang, tubuh dan fikiran sudah penat dan lelah untuk berfikir. Seharusnya, menurut peneliti kesehatan, dianjurkan untuk tidur siang. Tetapi kita tetap dipaksa belajar. Membuat penyerapan ilmu tidak begitu efektif.”

Dengan memaksakan otak untuk tetap bekerja dalam kondisi yang tidak fit bukan hanya memberikan beban berlebih terhadap otak, namun juga merupakan hal yang tidak berguna. Otak akan terlalu lelah untuk menyerap pelajaran-pelajaran yang diajarkan. Alangkah baiknya untuk mengistirahatkan otak terlebih dahulu, dengan begitu, pelajaran juga akan terserap lebih baik.

Jam pembelajaran murid 8 jam juga dapat mempengaruhi perilaku dan aktivitas murid sepulang sekolah. Setelah menghabiskan 8 jam di sekolah tanpa istirahat yang cukup, para murid pulang ke rumah masing-masing dengan kondisi baik badan dan pikiran yang lelah. Hal ini dapat menyebabkan para murid terlalu lelah, yang alhasil, mereka akan lebih susah berkonsentrasi untuk mengerjakan tugas rumah mereka. Hal ini juga dapat mempengaruhi siklus istirahat mereka, yang akhirnya dapat berujung fatal, yang berarti juga dapat mempengaruhi kesehatan mereka dan kinerja masing-masing dari mereka keesokan harinya.

Tidur siang merupakan aktivitas penting yang sebaiknya dilakukan baik untuk anak-anak, remaja, maupun orang dewasa. Banyak studi yang membuktikan bahwa dengan tidur siang, pikiran dan badan akan terasa lebih segar, yang dapat berujung kinerja otak dan pikiran yang maksimal.

Hal ini tampaknya dipandang penting oleh salah satu sekolah dari negeri bambu. Sekolah Dasar 1 Goaxin di Cina memberikan istirahat tidur siang bagi murid-muridnya. Malah, mereka diwajibkan untuk tidur siang di jam yang sudah ditentukan. Jam tidur siang ini dinilai dapat memberi kesempatan pada murid-murid untuk beristirahat dan bangun dalam keadaan yang segar dan siap melanjutkan aktivitas belajar mereka.

Menyediakan waktu tidur siang yang dibedakan dari jam makan siang dapat mengembalikan kebugaran otak yang diperlukan untuk kembali beraktivitas. Waktu yang diperlukan untuk memulihkan kebugaran otak tidaklah lama, cukup 10 sampai 20 menit saja untuk otak siap kembali beraktivitas. Faktanya, tidur lebih dari 30 menit akan membuat badan terasa letih, atau bingung.

Bahkan, sudah dilakukan berbagai percobaan yang mendukung fakta tersebut professor jurusan psikologi, Leon Lack dari Flinders University contohnya. Beliau mengamati hasil tidur siang dari 24 partisipan yang masing-masing diberikan durasi waktu tidur yang berbeda. Hasilnya, mereka yang tidur siang selama 10 menit, langsung merasa otak lebih tajam dan ini bisa bertahan selama 2.5 jam. Bagi mereka yang tidur selama 20-30 menit, mereka akan merasa grogi selama 30 menit setelah bangun.

Tidur terlalu lama malah akan membuat kita grogi dan tidak siap untuk melanjutkan aktivitas, karena itu tidur siang dianjurkan hanya dilakukan selama kurang dari 30 menit.

Menurut saya pribadi, sistem pembelajaran yang sudah diterapkan berbgai sekolah di Indonesia belumlah efektif. Melihat dari kurangnya perhatian yang diberikan bagi otak untuk beristirahat, alangkah baiknya jika sekolah ataupun yang berwenang memberi jam istirahat pada murid yang cukup bagi mereka untuk melanjutkan aktivitas belajar-mengajar dalam keadaan yang lebih bugar, terlepas dari rasa kantuk maupun penat. Contohnya, memberikan jam istirahat yang dibedakan dari jam makan siang agar murid dapat tidur sejenak. Sekolah dapat menyediakan 20 menit bagi siswa setelah jam makan siang untuk tidur sejenak sebelum akhirnya dapat melanjutkan kembali aktivitas belajar-mengajar.

Bukankah akan lebih baik memberikan waktu istirahat lebih seperti mengurangi waktu belajar 20 menit untuk istirahat, dan setelah itu dapat kembali beraktivitas dengan kondisi otak yang lebih siap dibandingkan dengan kondisi otak yang penat, dimana belajar tidak akan membuahkan hasil sama sekali.

 

 

Sumber:

Amber J. Tietzel, and Leon C. Lack. “The Short-Term Benefits of Brief and Long Naps Following Nocturnal Sleep Restriction.” SLEEP Vol. 24, No. 3 (2001). P. 293-300.

Sumathi Reddi, “The Perfect Nap: Sleeping Is a Mix of Art and Science,” http://www.wsj.com/articles/SB10001424127887323932604579050990895301888, diakses pada 18 Maret 2016.

Herdiana Noviantari, “Sekolah Cuma 5 Jam, Tanpa PR & Ujian Nasional, Kenapa Pelajar di Finlandia Bisa Pintar?” http://www.hipwee.com/feature/sekolah-cuma-5-jam-tanpa-pr-ujian-nasional-kenapa-orang-finlandia-bisa-pintar/, diakses pada 18 Maret 2016.

“Ini Lucu! Sekolah ini Menyuruh murid nya Tidur Siang,” http://detikzone.xyz/ini-lucu-sekolah-ini-menyuruh-murid-nya-tidur-siang/ , diakses pada 18 Maret 2016.

Faris Kartawijaya, “Efektifkan Sekolah 8 jam?” http://farisnoteindo.blogspot.co.id/2013/09/efektifkah-sekolah-8-jam.html , diakses pada 18 Maret 2016.

Nanang Sutisna, “Ini Alasan Purwakarta Pangkas Jam Belajar Sekolah Dasar,” https://nasional.tempo.co/read/news/2015/06/09/058673341/ini-alasan-purwakarta-pangkas-jam-belajar-sekolah-dasar, diakses pada 18 Maret 2016.

 

 


Oleh : Sylviana Gunawan
t : @sylviana21 | ig : sylvianagunawan


 

Facebook Comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mission News Theme by Compete Themes.