Press "Enter" to skip to content

Tarian Lengger Maut, Kegagalan Dalam Bercerita

Tari Lengger adalah sebuah tarian tradisional dari daerah Banyumas, Jawa Tengah. Lengger yang merupakan budaya Jawa banyumasan ini masih cukup sering ditampilkan dalam berbagai kegiatan. Tari Lengger sebetulnya dibawakan oleh pria yang kemudian didandani menjadi perempuan, dalam beberapa kepercayaan masyarakat, Tari Lengger juga ditampilkan dalam kegiatan ritual.

Budaya dan cerita dibalik Tari Lengger inilah yang kemudian diangkat menjadi narasi utama dalam film Tarian Lengger Maut. Film yang cukup kental memperlihatkan kehidupan dan elemen budaya Jawa banyumasan yang dikemas dalam balutan thriller – horror.

Lupakan dulu tentang roh gentayangan, tentang tabu dalam masyarakat, dan juga balas dendam yang biasa menghiasi kisah horror film Indonesia. Sutradara Yongki Ongestu mengemas film ini dengan lebih menekankan pada nuansa thriller dan membuat minim unsur horrornya.

Tarian Lengger Maut bercerita tentang kisah seorang pembunuh berantai bernama Jati Arya Permana (Refal Hady) yang juga seorang dokter yang memiliki obsesi terhadap jantung. Ia berasal dari kota namun membuka praktik di desa Pagar Alas dimana kemudian ia bersinggungan dengan seorang penari lengger di desa Pagar Alas bernama Sukma (Della Dartyan).

Tarian Lengger Maut. pic: Visinema Pictures

Masyarakat Desa Pagar Alas lama-lama mulai berkurang karena banyak orang yang tiba-tiba menghilang. Mereka yang hilang adalah para korban dari Dokter Jati yang membunuh mereka dan mengoleksi jantung mereka akibat obsesi Dokter Jati terhadap suara detak jantung.

Masyarakat setempat lama kelamaan semakin ketakutan akibat makin banyak orang hilang. Mereka percaya bahwa hal tersebut adalah kutukan dan harus segera ditangkal dengan mengadakan pertunjukan tari lengger.

Film ini memang memiliki visual yang cukup cantik dengan latar pedesaan Jawa di akhir 90an. Namun itu saja yang bisa dipuji dari film ini, sisanya kita bisa mendapati bahwa film ini gagal dalam bercerita secara keseluruhan mulai dari pembentukan karakter, pembentukan jalan cerita, dialog, hingga premis-premis horror yang beberapa kali disusupkan.

Tokoh Jati adalah salah satu kelemahan terbesar film ini. Jati kehilangan motif dalam setiap aksi dan perilakunya. Tidak ada alasan yang jelas mengapa Jati tiba-tiba terobsesi dengan jantung dan menjadi seorang pembunuh berantai.

Tarian Lengger Maut. pic: Visinema Pictures

Keanehan lainnya dari Jati adalah saat dirinya berkenalan dengan orang lain, ia memperkenalkan dirinya sebagai ‘Dokter Jati’. Secara personal saya tidak pernah bertemu orang yang berkenalan sambil menyebutkan nama pekerjaannya. Seolah film ini terus-menerus ingin menekankan bahwa Jati adalah dokter makannya dia mampu mengambil jantung orang lain dengan operasi. Tapi bukan itu yang harusnya dibentuk dalam menjelaskan ‘motif’ tokoh Jati.

Tokoh Sukma pun tak kalah anehnya. Sukma kurang menunjukan detail aksen sebagai seorang warga desa Pagar Alas. Logatnya berbeda dengan tokoh lainnya seolah Sukma bukan warga setempat. Ia tidak berbicara dalam logat banyumasan, tapi dengan logat Jawa yang halus seperti Jawa mataraman.

Unsur horror dalam film ini juga terasa tidak ada selain latar musik yang memang dibuat seram ataupun perpindahan-perpindahan kamera yang dibuat dinamis. Begitupun dengan adegan thrillernya yang tidak terasa tegang sama sekali.

Film ini gagal membentuk alur dan pola cerita sehingga terasa datar dan tidak ada perubahan emosi hingga akhir. Bahkan pada saat klimaks pun kita masih tidak mengerti bagaimana kedua tokoh utama ini bisa menjadi demikian. Tarian Lengger Maut tampak melupakan esensi penting dalam membentuk sebuah cerita dan film inipun gagal dalam bernarasi.

 

Our score (4/10)

 

Judul                     : Tarian Lengger Maut
Produksi               : Visinema Pictures, Aenigma Picture
Sutradara             : Yongki Ongestu
Penulis Cerita      : Natalia Oetama
Pemeran               : Refal Hady, Della Dartyan

 

 

 


Putu Radar Bahurekso
t : @puturadar | ig : putu.radar


 

 

Facebook Comments Box

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mission News Theme by Compete Themes.